
Peran Karantina dalam Pertahanan dan Ekonomi Nasional
Di tengah meningkatnya arus perdagangan global dan ancaman penyakit lintas negara, sistem karantina menjadi garda terdepan yang sering kali luput dari sorotan. Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Sahat M. Panggabean menegaskan bahwa karantina bukan sekadar urusan teknis di pelabuhan dan bandara, melainkan bagian penting dari sistem pertahanan negara nonmiliter sekaligus instrumen strategis penggerak ekonomi nasional.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Penegasan tersebut disampaikan Sahat dalam kegiatan Refleksi Akhir Tahun Barantin 2025 yang digelar di Jakarta, Jumat (19/12/2025). Ia memaparkan berbagai capaian Barantin sepanjang 2025 dalam melindungi sumber daya alam hayati, menjaga ketahanan pangan, serta memperkuat daya saing komoditas Indonesia di pasar global.
Karantina dan Kedaulatan Pangan Nasional
Menurut Sahat, karantina memiliki posisi krusial dalam menjaga kedaulatan pangan nasional. Melalui pengawasan lalu lintas hewan, ikan, dan tumbuhan, karantina berperan mencegah masuk dan tersebarnya hama serta penyakit yang dapat berdampak luas terhadap ekonomi dan sosial masyarakat.
“Karantina bukan hanya urusan teknis di tempat pemasukan dan pengeluaran. Karantina adalah bagian dari sistem pertahanan negara nonmiliter yang bertugas melindungi sumber daya alam hayati dan ketahanan pangan nasional dari risiko masuk serta tersebarnya hama penyakit,” jelas Sahat.
Ribuan Tindakan Karantina Sepanjang 2025
Sepanjang tahun 2025, Barantin mencatat telah melakukan 5.909 tindakan karantina berupa penahanan, penolakan, dan pemusnahan terhadap komoditas berisiko tinggi. Komoditas yang paling sering ditindak meliputi daging, beras, pakan ternak, buah-buahan, serta berbagai produk pertanian strategis lainnya.
Selain itu, Barantin juga menerbitkan 809 Notification of Non-Compliance (NNC) kepada negara asal terhadap komoditas impor yang tidak memenuhi persyaratan karantina. Langkah pencegahan ini dinilai krusial untuk menghindari potensi kerugian ekonomi dalam skala besar.
Sahat mencontohkan, wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak sapi dapat menimbulkan kerugian hingga Rp40 triliun. Sementara itu, masuknya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) berbahaya seperti Pseudomonas cichorii berpotensi menyebabkan kerugian hingga Rp84,5 triliun.
“Satu celah kecil dalam sistem karantina bisa berdampak sangat besar. Karena itu, pencegahan di hulu jauh lebih efektif dan jauh lebih murah dibandingkan penanganan ketika wabah sudah menyebar,” ujarnya.
Karantina sebagai Economic Tools
Selain fungsi perlindungan, Barantin juga menjalankan peran strategis sebagai economic tools melalui fasilitasi perdagangan ekspor dan impor. Sepanjang 2025, Barantin menerbitkan 2.619.241 sertifikat karantina untuk kegiatan impor, ekspor, dan lalu lintas antararea. Nilai ekspor komoditas karantina menunjukkan tren positif dan memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional maupun daerah.
Barantin juga aktif melakukan pendampingan kepada 4.864 UMKM calon eksportir, serta menjalin negosiasi dan kerja sama protokol karantina dengan lima negara tujuan ekspor.
“Kami mendorong agar produk UMKM Indonesia tidak hanya mampu menembus pasar global, tetapi juga memenuhi standar kesehatan dan keamanan negara tujuan. Di sinilah peran karantina menjadi kunci keberterimaan produk Indonesia,” kata Sahat.
Transformasi Digital dan Pemanfaatan AI
Dari sisi tata kelola, Sahat menyoroti transformasi digital sebagai salah satu capaian penting Barantin sepanjang 2025. Layanan karantina kini terintegrasi dengan Indonesia National Single Window (INSW), penerapan e-Cert dan e-Phyto dengan puluhan negara mitra, serta pemanfaatan Artificial Intelligence (AI).
AI dimanfaatkan melalui virtual assistant dan chatbot untuk meningkatkan kecepatan layanan, akurasi analisis risiko, serta transparansi pengambilan keputusan berbasis data.
“Transformasi digital dan pemanfaatan AI adalah keniscayaan. Ini bukan sekadar modernisasi sistem, tetapi fondasi untuk membangun layanan karantina yang cepat, akurat, transparan, dan dipercaya dunia internasional,” jelasnya.
Fokus Pre-Border Karantina 2026
Memasuki tahun 2026, Barantin akan memperkuat konsep pre-border karantina. Pendekatan ini menitikberatkan pada pemenuhan persyaratan teknis di negara asal, penerapan sistem ekuivalensi, prior notice, serta integrasi data lintas negara. Strategi tersebut diharapkan mampu mempercepat proses border clearance, menurunkan risiko, dan meningkatkan efisiensi logistik nasional.
“Ke depan, fokus kami adalah mencegah risiko sejak sebelum komoditas masuk ke wilayah Indonesia. Pre-border karantina menjadi kunci untuk memperkuat pelindungan sekaligus mempercepat arus perdagangan,” pungkas Sahat.
Kegiatan Refleksi Akhir Tahun Barantin 2025 ini dihadiri jajaran pimpinan Barantin, kepala unit pelaksana teknis, serta para pemimpin redaksi media nasional. Forum tersebut juga menjadi ruang dialog terbuka antara Barantin dan media untuk meningkatkan kesadaran serta kepatuhan masyarakat terhadap perkarantinaan, demi melindungi sumber daya alam hayati dan memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.
Komentar
Kirim Komentar