
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Proyeksi Pertumbuhan Industri Perbankan Nasional pada 2026
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan kinerja industri perbankan nasional akan tetap tumbuh positif pada tahun 2026. Prospek ini didukung oleh beberapa faktor, termasuk likuiditas yang memadai, tren penurunan suku bunga, serta peningkatan permintaan kredit.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyatakan bahwa tren penurunan suku bunga global dan domestik yang diperkirakan berlanjut pada tahun depan akan memberikan dampak positif terhadap penghimpunan dana perbankan. Ia menjelaskan bahwa jika penghimpunan dana cukup positif, maka ketersediaan likuiditas akan terjaga dan membantu perbankan dalam melaksanakan penyaluran kredit.
“Jika penghimpunan dana cukup positif, maka ketersediaan likuiditas akan terjaga dan membantu perbankan dalam melaksanakan penyaluran kredit,” ujar Dian dalam jawaban tertulisnya.
Dian menambahkan bahwa peningkatan dana pihak ketiga (DPK) juga berpotensi menurunkan biaya dana (cost of fund) perbankan. Kondisi ini akan memperkuat kemampuan bank dalam menyalurkan kredit ke sektor-sektor produktif dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, tren penurunan suku bunga global diharapkan dapat mendorong permintaan kredit untuk berbagai kebutuhan ekonomi. Dengan dukungan tersebut, OJK optimistis pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 akan tetap solid.
Kualitas Aset dan Rasio NPL
Dari sisi kualitas aset, OJK memproyeksikan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) perbankan tetap terjaga di level rendah, sekitar 2%. Meski demikian, OJK tetap mencermati potensi tekanan pada segmen kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“UMKM merupakan sektor yang paling cepat tumbuh saat ekonomi ekspansif, tetapi juga paling cepat tertekan ketika kondisi makro melemah,” jelas Dian.
Lebih lanjut, Dian menilai implementasi berbagai program pemerintah, serta dukungan kebijakan fiskal, perdagangan, industri, dan investasi, berpotensi meningkatkan efek pengganda (multiplier effect) terhadap konsumsi rumah tangga dan investasi dunia usaha. Kondisi tersebut pada akhirnya akan mendorong peningkatan permintaan kredit perbankan.
Tren Bisnis Perbankan pada 2026
Sementara itu, terkait arah bisnis perbankan pada 2026, OJK mencatat berdasarkan Rencana Bisnis Bank (RBB) yang disampaikan hingga akhir November 2025, target pertumbuhan industri perbankan masih menunjukkan tren positif. Pertumbuhan kredit pada 2026 diproyeksikan sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun 2025.
Ruang penurunan suku bunga global dan domestik yang masih tersedia diharapkan dapat memperkuat pertumbuhan DPK sekaligus menjaga likuiditas perbankan. Dian juga menegaskan ketahanan perbankan nasional dari sisi permodalan akan tetap kuat dan berada pada level yang memadai.
Tingkat permodalan yang tinggi tersebut berfungsi sebagai bantalan (buffer) dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global, sekaligus mendukung ekspansi bisnis perbankan ke depan.
Komentar
Kirim Komentar