Perjalanan Emosional Atalia Praratya Sebelum Mengajukan Gugatan Cerai
Atalia Praratya, anggota Komisi VIII DPR RI yang akrab disapa Bu Cinta, mengungkapkan perasaan mendalam sebelum mengajukan gugatan cerai terhadap Ridwan Kamil. Dalam curhatannya, ia menyampaikan bahwa luka yang ia alami hanya bisa disembuhkan oleh Allah SWT. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa dirinya bukan sedang menyerah, tetapi berserah pada Tuhan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Curhatan Bu Cinta ini menjadi sorotan setelah ia mendaftarkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Bandung pada awal Desember 2025. Sidang perdana antara Atalia dan Ridwan Kamil akan digelar pada hari Rabu (17/12/2025). Pendaftaran gugatan tersebut dilakukan melalui tim kuasa hukumnya.
Penitera Pengadilan Agama Kota Bandung, Dede Supriadi, membenarkan adanya gugatan yang diajukan oleh Atalia. Ia menyatakan bahwa perkara tersebut sudah masuk dan akan mulai disidangkan minggu ini. Namun, pihak pengadilan masih enggan memberikan rincian lebih lanjut mengenai kasus tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Atalia Praratya maupun Ridwan Kamil tentang alasan di balik gugatan cerai ini. Namun, sebelum mengajukan gugatan, Bu Cinta sempat membagikan curhatan tentang luka yang ia alami.
Dalam postingannya, ia mengunggah foto dirinya sedang mengusap pipinya dengan tisu. Bu Cinta juga tampak memejamkan matanya seolah menahan luka yang ia rasakan. Selain itu, ia terlihat berbicara di atas panggung sambil menahan tangis.
“Tidak ada yang bisa kita pegang kecuali Allah. Maka saya coba berdamai itu dengan cara saya melepaskan diri saya dari beban saya perlahan,” katanya sambil berkaca-kaca. Bu Cinta juga terlihat beberapa kali mengusap matanya dengan tisu saat duduk di atas panggung.
Pada caption foto, Bu Cinta menuliskan bahwa dirinya bukan sedang menyerah. Ia memilih menyerahkan pada Allah untuk menyembuhkan lukanya.

Pesan Kehidupan yang Menyentuh
Curhatan lengkap Bu Cinta mencerminkan perjalanan emosional yang ia alami. Ia menyampaikan pesan penting tentang arti dari luka dan bagaimana menghadapinya. Berikut adalah kutipan lengkap dari curhatannya:
“Kita belajar bahwa memeluk luka bukanlah berarti menyerah. Tetapi mengakuinya, memaknainya, mencari pertolongan, lalu menyerahkannya pada Yang Maha Menyembuhkan. Sebab sesakit apa pun beban yang kita bawa, hati akan selalu menemukan tenangnya, saat kembali pada-Nya. Saudariku, disaat terluka sedalam apapun, janganlah merasa sendirian... Karena sejatinya setiap insan pasti pernah terluka.. Saling mendengar, memahami, dan menopang, akan membuat luka menjadi lebih ringan. Dalam setiap kebersamaan, kita bisa menemukan keberanian untuk bangkit.. Dalam dukungan satu sama lain, kita bisa menemukan cahaya harapan yang tak pernah padam. Tetaplah tegar.. Tetaplah tangguh.. dan. Tetaplah bersinar.. dalam lindungan dan kasih sayang Ilahi…”

Kesimpulan
Curhatan Bu Cinta menjadi sebuah pesan yang menginspirasi banyak orang. Ia menunjukkan bahwa meskipun hidup penuh tantangan, kekuatan spiritual dan dukungan dari sesama dapat menjadi penopang dalam menghadapi kesedihan. Dengan cara yang penuh ketulusan, ia memilih untuk melepaskan beban dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan.
Komentar
Kirim Komentar