Apakah Industri Kreatif Indonesia Layak Dijual? Pandangan Praktisi

Apakah Industri Kreatif Indonesia Layak Dijual? Pandangan Praktisi

Dunia gadget kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Apakah Industri Kreatif Indonesia Layak Dijual? Pandangan Praktisi yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Potensi dan Tantangan Industri Kreatif di Indonesia

Industri kreatif di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sering dianggap sebagai salah satu fondasi masa depan ekonomi nasional. Narasi ini tidak muncul tanpa landasan. Pemerintah Indonesia secara jelas mengidentifikasi ekonomi kreatif sebagai sebuah ekonomi baru yang berakar pada kreativitas, inovasi, dan pengetahuan, yang dianggap dapat mengatasi tantangan terbatasnya sumber daya alam dan perubahan dalam struktur ekonomi global. Dalam kerangka Revolusi Industri 4.0, sektor kreatif sendiri dianggap suatu hal yang penting karena adanya fokus pada gagasan dan nilai tambah, bukan semata-mata pada produksi barang fisik. Suatu hal yang menarik karena mampu mengeksplorasi dan eksploitasi ide-ide kreatif yang memiliki nilai jual tinggi.

Secara konseptual, industri kreatif memiliki ciri yang berbeda dibanding sektor ekonomi tradisional. Literatur global seringkali mengartikan industri kreatif sebagai sektor yang memproduksi barang dan jasa yang berasal dari kreativitas, keterampilan, dan kekayaan intelektual, di mana sebagian besar bersifat tidak tampak atau intangible. Produk seperti permainan (gim), animasi, desain, ilustrasi, musik, dan konten digital hadir bukan sebagai barang fisik, tetapi sebagai aset intelektual yang nilainya ditentukan oleh pandangan pasar dan peluang untuk diperdagangkan.

Karakter dari dunia ide yang tidak terlihat ini sebenarnya dapat menjadi kekuatan namun juga tantangan. Di satu sisi, produk kreatif memiliki kemampuan untuk berkembang dengan baik karena biaya untuk membuatnya kembali tergolong rendah. Sebaliknya, nilai ekonomi dari aset tersebut sulit untuk diukur secara langsung, khususnya bagi para investor yang biasa menangani aset fisik. Inilah yang mengakibatkan investasi dalam industri kreatif sering dianggap lebih berisiko daripada sektor tradisional.

Investasi dalam Industri Kreatif

Apabila dihubungkan dengan aspek keuangan, dalam konteks investasi, sangat penting untuk dipahami bahwa investor pada dasarnya tidak hanya membeli inovasi, tetapi juga nilai di masa depan (future value). Laporan tentang pembiayaan ekonomi kreatif di Indonesia menekankan bahwa para investor mengevaluasi model bisnis, struktur pendapatan, tata kelola, serta kemampuan entitas kreatif dalam menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang, bukan hanya mutu karya seni. Adanya kreativitas tanpa adanya sistem monetisasi yang terdefinisi dengan baik akan mengalami kesulitan untuk dapat diubah ke dalam nilai investasi.

Tantangan lain yang sering muncul adalah terbatasnya pilihan jalur keluar (exit strategy) bagi investor di bidang kreatif. Tidak seperti startup di bidang teknologi atau manufaktur, ekosistem industri kreatif di Indonesia masih sedikit memiliki contoh keberhasilan keluar melalui penawaran umum perdana (IPO), akuisisi besar, atau pasar sekunder yang terstruktur dengan baik. Situasi ini menyebabkan beberapa investor dapat menjadi lebih waspada untuk mempercayakan pendanaannya di dunia kreatif.

Perkembangan Ekosistem Industri Kreatif

Walaupun begitu, keterbatasan exit strategy ini sebenarnya tidak secara otomatis menunjukkan bahwa industri kreatif tidak berpotensi sama sekali untuk diinvestasikan. Pernyataan ini lebih dapat dikatakan menggambarkan adanya proses dari tahap kemajuan ekosistemnya. Industri kreatif Indonesia saat ini dapat dipahami sedang mengalami perubahan: dari ekosistem yang mengandalkan bakat individu (talent) menuju ekosistem yang lebih bertanggung jawab dengan didasarkan pada sistem kelembagaan dan hak kekayaan intelektual.

Diskursus mengenai kebijakan yang berkaitan dengan perlindungan dan komersialisasi Kekayaan Intelektual (IP) yang marak digalakkan saat ini menunjukkan adanya perubahan pemahaman bahwa nilai ekonomi kreatif seharusnya diinstitusionalisasi, dan tidak hanya menjadi milik individu tertentu. Negara-negara berkembang yang berhasil memperbaiki sistem perlindungan hak kekayaan intelektual dan lembaga kreatifnya akan cenderung dapat meningkatkan daya tarik investasinya dalam sektor ini. Kondisi dimana para pelaku mampu menginstitusikan produknya menjadi sebuah momentum kepercayaan pada industry ini.

Dalam konteks Indonesia, upaya pendaftaran hak cipta, merek, dan lisensi merupakan tanda awal menuju ekosistem kreatif yang lebih terstruktur dan matang. Meskipun begitu, dalam konteks tersebut, patut diakui bahwa tidak semua pelaku dalam industri kreatif saat ini memiliki tingkat kesiapan untuk berinvestasi dalam hal yang serupa. Idealnya, entitas yang memiliki hak kekayaan intelektual yang terdefinisi dengan baik dan terdokumentasi, model bisnis yang telah terbukti, manajemen yang profesional, serta pandangan jangka panjang dianggap lebih memenuhi syarat untuk memperoleh investasi.

Tantangan dan Perspektif Masa Depan

Pada akhirnya, pertanyaan “apakah sektor kreatif di Indonesia sudah siap untuk diinvestasikan” secara visibel saat ini tidak dapat dijawab secara tegas atau sederhana dengan jawaban “ya” atau “tidak”. Dari segi sektor, industri kreatif di Indonesia sendiri memiliki potensi yang besar dan telah diakui sebagai masa depan perekonomian nasional. Meskipun begitu, terkait dengan kesiapan, kelayakan investasi tetap bersifat selektif dan sangat tergantung pada tingkat institusionalisasi, pengelolaan Kekayaan Intelektual (IP), serta profesionalisme manajemen dari setiap entitas. Ini menjadi sebuah tantangan sendiri bagi para praktisi kreatif untuk dapat menginstitusikan entitas bisnisnya masing-masing.

Kesimpulan: Bagaimana pendapat Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar