
Pemanfaatan AI dalam Proses Pendanaan Riset
\nProses pendanaan riset yang lambat dan penuh kendala administratif masih menjadi tantangan utama di dunia penelitian. Kini, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai menjadi solusi untuk mengatasi berbagai hambatan dalam siklus riset, termasuk proses pencarian donor penelitian.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Dalam konteks ini, penggunaan AI umumnya dilakukan melalui aplikasi digital tertentu. Aplikasi tersebut memiliki fitur yang memungkinkan beberapa pihak terkait memantau publikasi ilmiah yang ada. Hal ini membantu meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam pengelolaan riset.
\nKartiko Eko Putranto, Perencana Madya di Pusat Riset Optimalisasi Proses Industri, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa evaluasi penelitian di Indonesia biasanya dilakukan setelah riset selesai. Misalnya, dengan menilai apakah hasilnya dipublikasikan dalam bentuk jurnal ilmiah atau tidak.
\n“Kalau menggunakan AI, dengan data yang ada, sistem bisa memprediksi apakah riset yang diajukan terhubung dengan program pemerintah atau relevan dengan isu yang sedang berkembang. Jadi dari awal sudah bisa dilihat, apakah penelitian ini akan berdampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya dalam Global Research Council (GRC) Meeting 2025 di BRIN, Rabu 3 November 2025 sore.
\nMenurut Kartiko, kemampuan prediktif AI sangat membantu lembaga pendana dalam mengambil keputusan. Dengan algoritma analisis berbasis data, lembaga pendana dapat memperkirakan tidak hanya kelayakan teknis sebuah penelitian, tetapi juga manfaat sosial dan ekonominya.
\n“AI bisa membantu menilai, bukan hanya apakah riset bisa dilakukan, tapi juga apakah hasilnya nanti betul-betul membawa dampak. Kalau anggaran terbatas, tentu lebih baik dialokasikan untuk riset yang manfaatnya jelas,” katanya.
\n“Bagi peneliti, AI bisa membantu dari tahap menulis proposal sampai menilai kembali relevansi risetnya. Bagi pihak pendana, AI bisa membantu menentukan prioritas pembiayaan,” tambahnya.
\nMeski begitu, Kartiko menegaskan bahwa keputusan akhir tetap harus berada di tangan manusia. Keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan kendali manusia menjadi kunci agar AI benar-benar berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti dalam proses penentuan pendanaan riset.
\nKendala Peneliti
\nRuchi Chauhan, Vice President & Head of Marketing (ROW) Cactus Communications, menyebutkan salah satu kendala yang sering dihadapi peneliti adalah penulisan proposal yang tidak sesuai dengan syarat atau parameter yang telah ditetapkan lembaga pendana.
\n“Setiap lembaga pendana memiliki ruang lingkup dan ketentuan masing-masing. Banyak aplikasi yang ditolak atau tertunda karena data tidak lengkap, sehingga terjadi bolak-balik revisi yang memperlambat proses,” ujarnya.
\nIa menambahkan, masalah juga muncul pada tahap penilaian. Di banyak lembaga pendana di dunia, tim penilai biasanya berukuran kecil sementara jumlah aplikasi yang masuk bisa mencapai seratus kali lipat dari kapasitas mereka. Kondisi ini membuat proses seleksi hibah memakan waktu sangat lama.
\n“Di sinilah AI bisa berperan. Dengan alat bantu berbasis AI yang dirancang secara berpusat pada manusia, lembaga pendana dapat mempercepat proses penyaringan awal proposal sesuai parameter yang telah ditetapkan. Ini akan sangat membantu tim penilai dalam melakukan seleksi tahap pertama,” tuturnya.
\nSelain mempercepat proses awal, AI juga dinilai dapat membantu memperluas jaringan peninjau. Dukungan AI dapat mengurangi beban lembaga pendana sekaligus memperpendek waktu tunggu bagi peneliti.
\nManfaat AI dalam Proses Pendanaan Riset
\nPemanfaatan AI dalam pendanaan riset memberikan berbagai manfaat signifikan. Salah satunya adalah mempercepat proses seleksi proposal. Dengan algoritma yang canggih, AI dapat mengidentifikasi proposal yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh lembaga pendana.
\nSelain itu, AI juga membantu dalam menilai potensi dampak sosial dan ekonomi dari suatu penelitian. Dengan data yang tersedia, sistem dapat memprediksi apakah riset tersebut akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
\nAI juga dapat digunakan untuk memperluas jaringan peninjau. Dengan dukungan teknologi ini, lembaga pendana dapat menemukan peninjau yang lebih tepat dan mempercepat proses penilaian.
\nDengan demikian, AI menjadi alat bantu yang sangat berharga dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pendanaan riset. Namun, penting untuk diingat bahwa keputusan akhir tetap harus dibuat oleh manusia, karena keseimbangan antara teknologi dan kontrol manusia adalah kunci keberhasilan.
Komentar
Kirim Komentar