
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Peran Komunikasi Publik dalam Membangun Hubungan Internasional
Pernyataan yang disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengenai bantuan senilai Rp1 miliar dari Malaysia terhadap korban bencana di Sumatera menimbulkan berbagai reaksi dari kalangan akademisi. Pernyataan tersebut, khususnya diksi "masih kalah" yang digunakan oleh Mendagri, dinilai memiliki potensi untuk mengaburkan makna solidaritas antarnegara.
Dosen Komunikasi Publik dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Dr. Evi Novianti, S.Sos., M.Si, memberikan tanggapan kritis terkait cara pejabat publik mengomunikasikan isu sensitif di ranah internasional. Menurutnya, pemilihan kata dalam merespons bantuan negara sahabat harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan kesadaran akan dampak psikologis yang mungkin timbul.
Evi menjelaskan bahwa penggunaan diksi "masih kalah" cenderung bersifat komparatif-hirarkis. Ia menilai hal ini kurang sensitif karena bisa mengubah persepsi publik terhadap esensi bantuan itu sendiri. Pemilihan kata tersebut berpotensi menggeser makna bantuan kemanusiaan menjadi ajang pembandingan kekuatan, bukan lagi soal solidaritas.
"Pemilihan diksi tersebut dapat memicu psychological distancing antar masyarakat serumpun, menimbulkan rasa tidak dihargai pada pihak pemberi bantuan dan defensif pada publik domestik, yang berisiko mereduksi makna empati lintas negara," ujar Evi.
Dalam hubungan diplomatik, bantuan bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan simbol hubungan baik yang tidak sepatutnya diadu secara nominal. Dampak dari pernyataan tersebut, lanjutnya, tidak hanya berhenti di meja diplomasi, tetapi juga hingga ke level psikologi massa.
Sebagai evaluasi bagi komunikasi publik pemerintah, Evi menyarankan penggunaan strategi appreciative framing. Strategi ini mengedepankan rasa hormat tanpa menghilangkan pesan mengenai kemandirian bangsa. Manajemen komunikasi seharusnya menekankan appreciative framing: mengakui kontribusi pihak luar secara hormat, sambil menyampaikan kapasitas anggaran nasional sebagai bentuk kesiapan negara, tanpa diksi komparatif yang berpotensi merendahkan.
Sebelumnya, Mendagri Tito mengomentari kontribusi bantuan dari negara tetangga, Malaysia, kepada korban terdampak bencana di Sumatera. Menurut Tito, nilai bantuan dari Malaysia tersebut dinilai tidak signifikan. Ia sempat menerima informasi mengenai adanya pengusaha dari Malaysia yang berencana menyumbang obat-obatan untuk warga yang terdampak bencana di Aceh.
Namun, setelah dilakukan kajian mendalam, lanjut mantan Kapolri RI ini, total nilai bantuan bencana tersebut diperkirakan hanya mencapai sekitar Rp1 miliar. "Setelah dilihat (jenisnya), obat, dikaji, berapa banyak obat-obatan yang dikirim, itu nilainya tidak sampai Rp1 miliar, kurang lebih Rp 1 miliar," kata Tito dalam sebuah wawancara video bersama Helmy Yahya.
Komentar
Kirim Komentar