7 fakta menarik burung elang cokelat, pemakan bangkai yang jarang diketahui

7 fakta menarik burung elang cokelat, pemakan bangkai yang jarang diketahui

Media sosial sedang heboh membicarakan topik ini. Banyak netizen yang penasaran kebenaran di balik 7 fakta menarik burung elang cokelat, pemakan bangkai yang jarang diketahui. Berikut fakta yang berhasil kami rangkum.

Elang Cokelat: Burung Pemangsa yang Unik dan Bermanfaat

Elang cokelat atau tawny eagle adalah salah satu spesies burung pemangsa yang menarik untuk dipelajari. Dikenal dengan sifat oportunistiknya, elang ini tidak hanya berburu sendiri, tetapi juga suka memakan bangkai bersama burung bangkai. Berikut beberapa fakta unik tentang elang cokelat.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Jenis Elang Sejati


Elang cokelat atau Aquila rapax merupakan jenis burung pemangsa berukuran besar. Menurut laman Animalia, burung ini memiliki panjang tubuh sekitar 58—75 sentimeter dengan berat 1,5—3 kilogram. Rentang sayapnya bisa mencapai lebar 1,9 meter. Elang cokelat termasuk dalam genus Aquila, yaitu kelompok elang sejati. Di antara anggota genus ini, ia bersaudara dengan elang stepa, elang emas, hingga rajawali ekor baji. Dibandingkan saudara-saudaranya di genus Aquila, elang cokelat termasuk yang berukuran sedang.

Postur Tubuh dan Warna yang Khas


Elang cokelat memiliki siluet tubuh yang khas. Tubuhnya proporsional dengan leher panjang dan paruh besar. Ekornya pendek dan agak membulat di bagian ujung, bahkan hampir berbentuk persegi. Laman Animalia menyebut ekor elang cokelat lebih menyerupai ekor burung hering atau burung bangkai ketimbang burung elang. Kakinya diselimuti bulu tebal, ciri khas burung pemangsa di subfamili Aquilinae.

Bulu elang cokelat lumayan bervariasi mengikuti wilayah persebarannya. Burung pemangsa ini bisa berwarna cokelat gelap sampai cokelat muda, biasanya dengan nuansa kekuningan yang khas. Warna kekuningan ini menginspirasi namanya dalam bahasa Inggris, tawny eagle, serta membedakannya dari elang stepa yang lumayan mirip dengannya. Warna kekuningan ini memberikan kamuflase yang apik di habitat pilihannya.

Suka Habitat Kering


Elang cokelat hidup di sebagian besar Afrika dan anak benua India, serta bagian tenggara Timur Tengah. Burung pemangsa ini senang habitat terbuka beriklim kering. Kamu bisa menjumpainya di wilayah semi-gurun, sabana, stepa, padang rumput, sampai wilayah pegunungan. Meski suka wilayah kering, elang cokelat jarang ditemukan di daerah yang sama sekali tidak memiliki pepohonan. Ia tetap perlu pohon untuk bertengger dan bersarang.

Suka Bersarang di Pohon Berduri


Sarang elang cokelat membangun sarang yang lumayan besar. Sarang ini dibangun secara kompak oleh sepasang elang cokelat dengan bahan berupa ranting, rumput, dan dedaunan. Seringkali, elang cokelat membangun sarangnya di puncak pohon berduri, utamanya pohon akasia. Menurut laman Oiseaux Birds, elang cokelat merupakan satu-satunya elang Afrika yang sering membangun sarangnya di pohon berduri seperti ini.

Ahli Berburu yang Suka Mencuri


Elang cokelat merupakan spesies yang paling oportunistik di subfamili Aquilinae. Burung pemangsa ini memang aktif berburu mangsa. Sebagian besar mangsanya yang berupa hewan kecil ditangkap di tanah, dan gak jarang juga dikejar sambil terbang kalau mangsanya adalah burung.

Menariknya, selain berburu sendiri, elang cokelat juga termasuk kleptoparasit. Ia sangat mahir mencuri mangsa dari burung pemangsa lain, bahkan gak segan-segan mencuri mangsa dari burung pemangsa yang ukurannya lebih besar. Namun, menurut laman Peregrine Fund, elang cokelat paling sering mencuri dari elang bateleur.

Makan Bangkai Bareng Burung Bangkai


Eits, keanehan elang cokelat gak berhenti sampai di sifat kleptoparasitnya saja. Gak cuma mencuri, elang cokelat juga suka memakan bangkai hewan. Ia gak segan-segan menyantap sisa bangkai hewan yang ditinggalkan predator lainnya. Bahkan, elang cokelat sering terlihat makan bersama sekelompok burung bangkai.

Di balik sifat oportunistik ini, ada peran ekologis yang gak main-main. Menurut laman BioDb, perilaku makan oportunistik membuat keberadaan elang cokelat sangat penting di ekosistem. Gak cuma mengendalikan populasi hewan mangsa, elang cokelat juga turut membersihkan lingkungan dari penyebaran penyakit yang muncul dari bangkai hewan. Gak heran kalau ada yang menyebut elang cokelat sebagai spesies kunci.

Gak Akrab Sama Tetangga


Elang cokelat sejatinya merupakan hewan yang suka menyendiri alias soliter. Ia hidup sendirian atau bersama pasangan sehidupsematinya. Menariknya, elang cokelat lumayan teritorial terhadap sesamanya. Di luar musim kawin, elang cokelat memang suka berkelompok dengan sesama elang cokelat. Apalagi kalau ada makanan dalam jumlah besar seperti ledakan populasi tikus atau kawanan belalang. Menurut laman Animal Diversityi, burung pemangsa ini bisa ditemukan berkumpul ramai-ramai sampai berjumlah 20 ekor untuk makan makanan yang melimpah.

Namun, elang cokelat punya wilayah teritori yang sangat luas. Luasnya wilayah teritori ini memberikan jarak yang cukup jauh dengan tetangganya sesama elang cokelat. Alasannya supaya ia bisa menghindari pencurian makanan oleh tetangganya sendiri!

Sungguh burung pemangsa yang unik, ya? Setelah tahu lebih banyak, bagaimana pendapatmu tentang elang cokelat atau tawny eagle? Apakah ia termasuk jenis burung pemangsa favoritmu?

Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa bagikan artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan berita heboh ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar