
Tahlilan: Tradisi yang Harus Dijaga dengan Benar
Tahlilan merupakan salah satu tradisi yang sangat hidup di Indonesia, khususnya dalam kalangan masyarakat Muslim. Tahlilan biasanya dilakukan sebagai bentuk doa bersama, sedekah, dan juga untuk memperkuat ikatan sosial ketika ada anggota keluarga yang meninggal. Namun, dalam praktiknya, seringkali terjadi kesalahan-kesalahan kecil yang bisa mengurangi nilai adab, substansi doa, serta fokus ibadah dalam tahlilan itu sendiri.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Berikut adalah lima kesalahan yang paling sering terjadi dalam tahlilan, agar jamaah dapat ambil manfaat maksimal dan tetap menjaga adabnya ketika mengikuti atau menyelenggarakan tahlilan:
Fokus Hanya Pada Konsumsi dan Suguhan Makanan
Kesalahan paling umum dalam tahlilan adalah terlalu fokus pada penyajian makanan, konsumsi, dan faktor tampilan suguhan. Ada yang sampai merasa “malu” atau “takut dinilai” jika suguhannya sederhana. Akibatnya, banyak keluarga akhirnya memaksakan biaya hanya untuk memenuhi standar sosial lingkungan.
Padahal inti dari tahlilan bukanlah pada sajian makanan. Intinya adalah doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, mengingat kematian, dan mengirim pahala untuk orang yang sudah meninggal. Dalam penjelasan ulama, makanan hanya sekadar bentuk sedekah, bukan parameter kesempurnaan tahlil. Jika keluarga sederhana, sederhana pun tidak apa-apa.
Menganggap Tahlilan sebagai Kewajiban Syariat
Kesalahan kedua adalah menganggap tahlilan sebagai hal wajib yang harus selalu dilakukan ketika ada yang meninggal. Padahal, tahlil adalah amalan doa, dzikir, dan sedekah — bukan kewajiban. Ia bukan rukun, bukan wajib, bukan syarat sah pemakaman. Ia adalah bentuk kebaikan kolektif yang dilakukan dalam tradisi sosial Muslim Indonesia, yang ulama banyak memandangnya sebagai bentuk amal jariyah dan penguatan ukhuwah.
Jika tidak mampu mengadakan tahlilan secara besar, tidak berdosa. Jika ingin hanya membaca doa keluarga di rumah sendiri, juga sah dan baik. Tujuan utama adalah memperbanyak doa. Tradisi ini baik, tapi jangan sampai berubah menjadi beban psikologis maupun finansial.
Menggunakan Bacaan Tanpa Memahami Maknanya
Banyak jamaah membaca tahlil dengan cepat, tetapi tidak benar-benar memahami arti dzikir dan doa yang dibaca. Padahal makna dzikir itu sangat penting. Ketika seseorang memahami, efeknya lebih dalam pada hati. Ia lebih khusyuk, lebih fokus, dan lebih menguatkan iman.
Ulama menekankan bahwa dzikir yang dipahami akan jauh lebih berdampak daripada hanya membaca teks secara mekanik atau terburu-buru. Belajar makna surat pendek, makna kalimat tahlil, makna istighfar, makna doanya — ini akan menaikkan kualitas tahlilan menjadi ibadah bernilai tinggi untuk diri sendiri dan almarhum.
Membuat Tahlilan Jadi Ajang Pamer Status
Masalah lain yang sering terjadi adalah mental kompetitif sosial dalam bentuk pertunjukan status. Contohnya, sengaja memperlihatkan kemampuan finansial, membanggakan suguhan tertentu, atau merasa "lebih tinggi" dari keluarga yang suguhannya sederhana. Ini terjadi karena tahlilan sering disangkutpautkan dengan standar sosial kampung atau kelompok.
Padahal amalan seperti ini justru menghilangkan nilai keikhlasan. Tahlilan itu ruang bersama, ruang doa, ruang menguatkan hati yang sedang berduka. Bukan ajang gengsi, bukan ajang “siapa paling mewah”.
Tidak Menjaga Adab Ketika Tahlilan Berlangsung
Banyak orang duduk dalam majelis tahlil tetapi tidak ikut khusyuk. Contoh kesalahan adab yang sering terjadi adalah: * berbicara sendiri * sibuk dengan ponsel * bercanda keras * tidak fokus ketika doa berlangsung * tidak ikut menyambut tamu dengan baik
Tahlilan itu majelis dzikir. Tempat malaikat hadir. Tempat doa naik. Tempat pahala mengalir. Maka adab dalam dzikir adalah inti. Jika jamaah menjaga adab, kualitas majelis menjadi berkah dan punya nilai yang jauh lebih besar bagi semua yang hadir.
Kesimpulan
Tahlilan itu bukan sekadar tradisi. Ia adalah medium spiritual yang punya kedalaman makna, sosial, aqidah, hingga sejarah panjang dalam perkembangan Islam di Nusantara. Namun substansinya bisa hilang apabila praktik-praktik yang keliru dibiarkan terus. Dengan menghindari 5 kesalahan ini, tahlilan bisa kembali pada tujuan utama: memperbanyak doa, memperkuat iman, menjaga ukhuwah, dan menghadirkan amal jariyah untuk almarhum dengan cara terbaik yang bisa dilakukan.
Komentar
Kirim Komentar